Rabu, 13 November 2019

Luna dan Ceritanya



            Habis gelap terbitlah terang, begitu judul buku yang menceritakan kisah seorang pahlawan perempuan pada masa kolonialisme, Raden Ajeng Kartini. Kini, langit Desa Silih Asih juga sedang merasakan terang setelah gelap menghalangi pandangannya terhadap bumi dan seluruh isinya beberapa bulan lamanya. Ya, bumi kala itu diselimuti awan kelabu yang membawa titik hujan untuk tanah di bumi. Berbulan-bulan awan putih hingga kelabu kehitaman mendominasi panggung alam semesta kala itu. Jika sudah tidak kuat menahan beban titik-titik air, awan itu akan menyirami bumi dengan lebat dan derasnya. Tak jarang ia membawa serta guntur dan angin.

Langit biru hari itu enggan diganggu awan walau sekedar untuk saling sapa. Awan tahu diri, ia pergi bersama angin menuju barat, menuju bagian langit lain yang mau menerima kehadirannya yang membawa kabar rintik hujan. Kini langit hanya ingin bersahabat dengan matahari. Langit sedang bahagia sebab manusia di bumi sangat senang akan persahabatan langit dan matahari. Dengan bersahabat dengan matahari, padi di sawah Pak Udin menguning dan mulai membungkuk yang artinya panen segera tiba, ikan asin Pak Asep menggaring dan bisa segera dijual, baju yang dijemur Bu Ani cepat mengering, bukan hanya itu es nong-nong Mang Bewok laris manis diserbu anak-anak SD saat jam istirahat tiba.

“Bu, kenapa langit senang melihat manusia?” Amna mulai mengekspresikan rasa ingin tahunya yang tinggi.

“Karena manusia senang, langit pun ikut senang. Langit yang berwarna biru bisa ikut mewarnai hari-hari manusia, bukan hanya hijaunya tumbuhan dan warna-warni bunga.”
     
      Amna menyimak jawaban Ibu dengan seksama. Sejak balita, Amna sudah biasa mendengarkan dongeng karangan Ibunya. Ibunya memang pintar sekali merangkai kata menjadi kalimat, kalimat menjadi kisah yang disusun rapi dan asik untuk didengar. Bahkan saat Amna masih dalam kandungan, Ibu tidak bosan membaca buku dan menulis kisah untuk diceritakan pada anak gadisnya kelak setiap menjelang tidur.

            Seperti saat ini, Amna berbaring di kasur mungilnya sambil memeluk boneka lumba-lumba berwarna abu tua kesayangannya. Sedangkan ibunya duduk di samping kanan Amna sambil mengelus rambut ikalnya yang berwarna kecokelatan, mirip sekali dengan ayahnya. Genap 8 tahun sudah Amna mendengar berbagai judul kisah dari Ibunya. Namun kisah kali ini belum pernah ia dengar sebelumnya. Sebab malam ini adalah hari ulang tahun Amna, jadi cerita yang Ibu perdengarkan tentu cerita yang belum pernah Amna dengar sebelumnya.

Setiap Amna ulang tahun, Ibunya memberikan satu cerita baru. Entah sudah berapa cerita yang sama yang sudah Amna dengar dari Ibunya, hingga ia hafal alur dan kata demi kata dari cerita itu. Namun ia tidak pernah bosan mendengar cerita ibunya. Setiap malam selalu ada pertanyaan dari Amna tentang tokoh atau alur dalam cerita. Kali ini ia sangat antusias mendengar cerita baru dari ibunya, ia berharap kantuk tidak segera datang sebab hari ini adalah hari yang ditunggunya. Bukan karena ini adalah hari ulang tahunnya, tapi karena hari ini ia akan mendengar cerita baru dari ibunya.  
            “Oh begitu. Oke lanjutkan, bu”

“hmm sudah jam 9 lewat 15, memangnya Amna belum ngantuk?”

“Beluuuum!!! Amna belum ngantuk. Ayo lanjutkan, Bu”

“Oke kalau begitu” Kemudian Ibu melanjutkan ceritanya.

            Semua manusia merasa senang bisa hidup di bawah langit yang cerah. Langit berpikir ini semua berkat matahari yang menjadikannya sahabat karib. Belum lagi setiap malam, setelah matahari pergi ke peraduan, si cantik rembulan beserta rombongan bintang membuat langit semakin indah dipandang. Bangganya langit saat itu, matahari, bulan, dan bintang berada di pihaknya. Biarlah awan diajak angin ke tempat lain, ke atas pengunungan, ke atas lautan, ke atas gurun pasir, atau ke manapun asal jangan ke tempat ini, desa yang sangat disayanginya.

Setiap hari langit selalu menunjukkan birunya, semakin membiru dikala ia melihat rombongan anak SD berjalan menuju sekolahnya melewAni perkebunan ketimun Pak Atang yang mulai berbunga pohonnya, tanda tak lama lagi akan tumbuh ketimun yang segar. Belum lagi ketika melihat burung-burung berkeliaran mencari makan di persawahan Pak Udin. Langit terhibur bukan main melihat mereka terbang terbirit-birit karena kaget bertemu dengan boneka sawah buatan Hendra, anak Pak Udin yang masih 12 tahun.

Ibu bercerita dengan kalimat yang rapi dan sangat detail. Ia ingin Amna bisa memiliki imajinasi sendiri dan membayangkan apa yang ia ceritakan. Kalau Steve Allen mengatakan bahwa radio adalah teater pikiran, maka ia ingin saat ia mulai bercerita kata demi kata, kalimat demi kalimat dan menjadi sebuah narasi kisah, Amna dapat menciptakan teaternya sendiri di dalam pikirannya.

Belum lagi sempat mengambil nafas untuk kalimat selanjutnya, Amna sudah melontarkan pertanyaan kembali, “Bu, kenapa langit sayang sama desa itu? Memangnya selain ada Pak Udin, Hendra, anak-anak SD yang pergi sekolah, Bu Ani, Pak Atang, di sana ada apa lagi?” Amna selalu punya pertanyaan

“Jawabannya ada di akhir cerita. Supaya seru, kamu tidur sekarang ya. Besok Ibu janji akan lanjutkan ceritanya spesial buat Amna”

            “Yaah. Amna penasaran, Bu”

            “Tapi ini sudah malam, kamu besok kan harus sekolah”

            “Yasudah. Amna tidur”

“Oke tuan puteri. Sekarang tidur, jangan lupa berdoa pada Allah, supaya Amna besok gak kesiangan solat subuh”

            “Bismillaahirrahmaanirrahiim…….”

            Malam itu langit tak ubahnya dalam cerita Ibu pada Amna, biru khas langit malam ditemani bintang yang entah berapa jumlahnya. Ibu tersenyum melihat langit begitu indah malam itu lewat jendela kamar Amna saat hendak menutup jendela. Si cantik rembulan tak ketinggalan, rupayan ia sudah bersolek bak puteri sejagat semalam. Angin malam berhembus masuk hingga mengibaskan rambut Ibu. Jendela ditutup, Amna sudah mulai mencoba memejamkan mata walau dalam hAni dan pikirannya masih ada rasa penasaran yang teramat akan kelanjutan cerita dari Ibunya.

***

Malam ini tanpa Amna meminta, Ibu sudah siap menceritakan kelanjutan kisah Langit yang sayang pada desa Silih Asih. Seperti biasa, Ibu duduk di samping kanan Amna sambil mengelus rambut ikalnya. Namun yang berbeda kali ini, Amna tidak memeluk boneka lumba-lumba kesayangannya, melainkan memeluk bantal embe berwarna ungu dari ayahnya yang sangat empuk dan tidak kalah disayang dari boneka lumba-lumba. 

Sampai suatu saat, matahari semakin mengeluarkan panasnya. Manusia merasakan panas yang luar biasa. Tanah mulai mengeras, air sumur mulai tak terlihat, dedaunan menguning kecokelatan, sawah Pak Udin mulai pecah-pecah bak bibir yang sedang panas dalam, ketimun Pak Atang juga gagal tumbuh besar sebab terlanjur menguning akibat panasnya matahari dan tak ada air untuk fotosintesis, orang-orang di desa itu mulai mencari mata air di tempat lain untuk masak, mandi, maupun buang air.

Orang-orang di desa itu tidak patah semangat, tidak mengeluh, apalagi menyerah. Mereka sangat kuat dan semangat untuk mencari air. Setiap orang saling membantu dan bekerjasama. Setelah sekumpulan bapak-bapak berpencar mencari sumber mata air di atas bukit dan berhasil menemukannya, Ibu-ibu mulai mengumpulkan ember, tali, dan bamboo untuk mengangkut air dari bukit ke desa. Tidak ada yang berebut air. Semua tertib mengambil air sesuai kebutuhan. Tidak serakah, sebab semua orang membutuhkan air saat itu.

Langit mulai merasa sedih, persahabatannya dengan matahari mengundang kemarau yang panjang. Berbeda dengan kemarau tahun-tahun sebelumnya. Rasanya kemarau kali itu sangat sulit, paceklik. Setiap hari rasanya haus juga kering kerontang. Warga desa Silih Asih mulai mencari sumber mata air ke atas bukit Bentang yang letaknya di sebelah Selatan berjarak 10km dari desa. Semua warga bergantian mengambil air ke sana. Tidak banyak yang mereka ambil. Sedikit-sedikit asal mencukupi kebutuhan minum dan masak. Biarlah mandi dua atau tiga hari sekali, yang penting bisa minum dan masak. Setiap hari mereka naik turun bukit untuk mendapatkan air. Tak kenal lelah, sebab tak ada lagi pilihan bagi mereka untuk menyerah. Jika menyerah, anak-anaknya akan merintih kehausan.

“Ya ampun. Terus gimana nasib mereka semua, bu?”

Mereka semua pasrah dengan kondisi yang mereka hadapi. Pak Udin maupun Pak Atang yang gagal panen sudah pasrah akan merugi. Langit mulai ikut bersedih, ia tak tega menyaksikan anak-anak SD yang kelelahan dan berpeluh keringat saat melewAni kebun Pak Atang menuju sekolah. Kini tak ada lagi manusia yang sanggup melihat birunya langit yang indah dengan mata telanjang karena silau akan sinar matahari yang semakin menyengat. Langit mulai mencari siasat, bagaimana caranya agar desa kesayangannya bisa mendapatkan air. Lalu ia ingat akan awan. Dulu memang setiap awan datang di tengah langit dan bumi, ia kesal karena tidak bisa menyaksikan manusia yang ada di desa Silih Asih. Namun ia juga sadar, kehadiran awan sangat dibutuhkan untuk desa itu. Awan bisa menurunkan hujan untuk desa itu. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa menunggu awan datang ke atas desa itu.

“Lalu ke mana perginya awan, bu?” ibu tak menjawab pertanyaan Amna, ia langsung melanjutkan ceritanya yang sekaligus menjawab pertanyaan gadis berambut ikal itu.

Kini matahari sedang bekerjasama dengan laut. Matahari memberikan panasnya ke bumi termasuk laut. Saat laut kepanasan, air laut menguap dan membentuk titik-titik uap air di udara. Terciptalah awan yang akan menyiram seisi bumi dengan air.  Semakin banyak titik-titik uap yang berkumpul, semakin banyak pula air yang terkandung di awan, dan karena itu semakin gelap pula warna awan.

Tidak sampai di situ, bukan hanya matahari dan laut yang bekerjasama, tapi angin juga ikut membantu. Ia membawa awan pergi ke berbagai tempat. Saat awan mulai tidak kuat menahan beban titik air, awan akan menjatuhkan semua air ke permukaan bumi. Hujan, namanya. Hujan akan turun di semua tempat yang ia datangi. Sawah Pak Udin, kebun Pak Atang, rumah Bu Ani, rumah Pak Asep, pokoknya semuanya. Hujan tidak pernah pilih-pilih tempat mana yang akan ia basahi. Tidak pandang bulu. Semuanya kebagian.

“Tidak pandang bulu itu apa, bu?”

“Artinya, tidak pilih-pilih. Tidak membeda-bedakan. Semuanya sama. Sama-sama kebagian air hujan. Begitulah sifat hujan”

“Oh gitu… terus hujannya turun di desa itu gak, bu?”

Ternyata desa Silih Asih menjadi salah satu tempat tujuan angin membawa awan. Sore itu di desa Silih Asih, tanah kering kerontang mulai basah hingga menembus beberapa centimeter dalamnya. Air mulai menggenang di sawah Pak Udin, tetesan hujan juga mampir di pohon ketimun Pak Atang yang gagal berbuah, sumur-sumur mulai terisi setetes demi setetes sambil menunggu aliran air resapan dari dalam tanah. Anak-anak SD mandi hujan sambil berlarian, Ibu Ani dan ibu-ibu lainnya tersenyum sumringah karena tidak akan kesulitan mencari air untuk masak. Semua orang di desa bersorak-sorai menyambut datangnya hujan sambil mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa, “Alhamdulillaah! Alhamdulillaah!! Hujaan!” tak henti-hentinya mereka bersyukur pada Allah, karena Dia telah menjadikan langit, matahari, bumi, laut, dan juga angin bekerjasama untuk memberikan kenikmatan kepada manusia dan seluruh alam.

“Seluruh alam?”

“Iya, seluruh alam. Ingat kan tadi ibu bilang apa? Hujan tidak pandang bulu. Hujan bukan hanya nikmat bagi manusia, tapi hewan, tumbuhan, dan semua yang ada di bumi ini.”

“Iya juga ya, hujan itu nikmat. Kalau gak ada hujan, tanah kering, sawah kering, semua orang kehausan, kepanasan, gak bisa mandi juga. Kan gak enak ya, bu”

“Tentu, bukan cuma hujan, panas matahari juga nikmat. Kalau tidak ada matahari, nanti air laut gak bisa menguap, gak akan ada awan, ga akan ada hujan. Semua itu adalah cinta kasih Allah kepada seluruh ciptaanNya di bumi. Arrohman, artinya maha pengasih, salah satu dari 99 nama yang sangat indah, Asma’ul Husna”

“Wah, keren, bu. Terus pertanyaanku yang kemarin jawabannya apa?”

“Tentang kenapa langit sayang sama desa Silih Asih?”

“Iya itu, bu”

“Langit sayang sama desa itu karena orang-orang di sana saling menyayangi. Ketika keadaan sulit, mereka saling membantu, tidak berebut air, tidak serakah. Sama seperti apa yang diperintahkan Allah. Setiap manusia harus saling membantu dalam kesulitan. Orang yang mampu dan kuat membantu orang yang lemah. Makanya desa itu dinamakan desa Silih Asih, artinya saling mengasihi”

 “Terimakasih, bu. Ceritanya baguuuuuss banget. Amna sukaaaa banget”

“Sama-sama, sayang. Sekarang kamu tidur ya. Sudah setengah sepuluh. Untung besok hari libur. Jangan lupa berdoa ya” ibu mencium kening Amna dan bergegas menuju jendela, sementara Amna berdoa untuk segera memejamkan mata. Kantuk sudah mulai membuat kelopak matanya berat. Dalam hitungan menit, ia sudah tidur dengan pulas.

Ibu memandang langit cerah malam itu, rembulan tidak lagi bulat sempurna seperti malam kemarin. Namun cantiknya tak pernah pudar. Sejak dulu ia selalu suka memandang bulan dari jendela kamarnya. Setiap ia melihat bulan, ia teringat sosok ayahnya yang sangat menggemari astronomi walaupun tidak punya pendidikan tinggi. Namun ayahnya selalu gemar membaca buku ensiklopedia tentang astronomi. Ia hapal betul tentang rasi bintang, gerhana bulan dan matahari, dan masih banyak lagi yang diketahui ayahnya.

Ayahnya juga sering menceritakan kisah, salah satunya kisah tentang astronot yang berhasil menginjakan kakinya di bulan, Neil Armstrong namanya. Kecintaan ayahnya pada dunia astronomi menjadi alasan ia memberikan nama pada anaknya. Luna, adalah nama Ibunya Amna yang berarti bulan. Karena itulah ia senang melihat bulan, ia seakan melihat dirinya sendiri dan ayahnya yang sudah lama pergi untuk selamanya. Dulu setiap malam, selain kisah Neil Armstrong, ayahnya selalu bercerita tentang bintang, bulan, matahari, planet, dan seisi bumi.

Luna senang bisa mendapatkan cerita dari ayahnya walaupun ia tidak yakin bahwa ada manusia yang berhasil menginjakkan kaki ke bulan. Namun kebiasaan bercerita yang ditularkan ayahnya, ia tularkan pada Amna, anaknya. Kelak ia ingin Amna menjadi anak yang cerdas.

Kini, Luna bersiap menyusun cerita-cerita menarik berikutnya untuk anak tercinta, Amna.

***



Jumat, 09 Agustus 2019

Limitless but Limited

Kenapa sih pake judul kaya gitu? Emang tulisan ini tentang apa?

Aku adalah salah satu orang yang rada susah memahami sebuah konsep atau teori kalau kebanyakan kata-kata akademisi atau ilmiah. Kosa kata aku tak sebanyak mereka yang punya kecerdasan retorika. Jadi aku gunakan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami diriku sendiri.

Jadi gini, berawal dari keresahan saat sedang berkumpul bersama kawan. Sedari dulu bahkan sejak aku SD, handphone adalah salah satu benda yang sudah mulai dimiliki anak-anak seumuranku saat itu. Kala itu aku hanyalah seorang anak biasa tanpa kecanggihan handphone. Aku selalu menjadi kambing conge ketika teman-temanku berbincang sambil bermain handphoe dan membicarakan fitur handphone. Mereka hapal sekali tipe, merk, sampai perbedaan setiap hp. Aku hanya bisa melihat dan mendengar tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan. Aku merasa berjarak dengan mereka.

Singkat cerita seiring perkembangan zaman dan teknologi, aku masih menjadi anak tanpa kecanggihan gadget. Pada masa SMA blackberry mulai merambah ke kantong seragam teman-temanku. Aku bahkan baru memiliki hp saat aku kelas 2 SMA. Itupun hp buatan China yang orang suka sekali bully produk China. Sama halnya ketika SD, aku hanya kambing conge di antara teman-temanku membicarakan obrolan mereka di bbm. Teman-temanku saat itu tidak lagi bertukar nomor hp tapi pin BB. Apalagi ini? Ketika aku sms mereka tidak bisa balas karena tidak ada pulsa, adanya paket bbm. Aku merasa berjarak dengan mereka.

Semakin hari teknologi semakin berkembang pesat. Setelah blackberry, Android merajalela. Beruntung, aku tidak terlalu ketinggalan. Sebab aku sudah bisa menabung, aku bisa membeli gadget seperti orang-orang. Sekian lama ku gunakan gadget, ternyata aku merasa pilu, sedih. Setiap aku berkumpul dengan teman-temanku, gadget menjadi 'YANG KETIGA' di antara kami. Dia selalu hadir dan mengalihkan fokus obrolan kami. Saat nongkrong bareng, rapat, seminar, bahkan jam perkuliahan. Sungguh, 'DIA YANG KETIGA' kehadirannya sangat menganggu. Merusak momen berharga.

Ini semua adalah resiko dari kecanggihan teknologi. Perkembangan teknologi memang membantu kita untuk melakukan segala hal lebih mudah. Semua hal bisa dilakukan by digital. Informasi bisa kita akses kapanpun dan di manapun dengan cepat. Teknologi mendobrak batas ruang dan waktu setiap wilayah. Kita sudah tidak kenal dengan batas wilayah, orang yang berada nun jauh di sana tetap bisa berkomunikasi dengan kita di sini dalam waktu singkat. Bahkan bisa saling tatap muka walau berjauhan.

Kemudahan yang diciptakan manusia lewat kecanggihan teknologi mengakibatkan adanya ketergantungan. Inilah yang disebut dengan simbiosis antara manusia dan teknologi. Manusia menciptakan teknologi agar dapat melakukan segala hal lebih mudah dan teknologi membentuk perilaku manusia menjadi seperti sekarang. Sadar atau tidak, perilaku manusia saat ini dibentuk oleh perkembangan teknologi.

Inilah yang diramalkan oleh Marshall Mcluhan pada 1960an. Ia menjelaskan konsep The Global Village (Desa Besar). Dunia ini akan menjadi desa besar. Dunia ini digambarkan seperti sebuah desa kecil dan setiap orang yang tinggal di sana merasa dekat, dapat bertukar informasi secara cepat. Tidak ada lagi batas-batas wilayah negara. Semua bisa terkoneksi dengan mudah dan cepat layaknya di sebuah desa kecil. Kondisi ini berdampak bukan hanya pada pola komunikasi personal menjadi komunikasi massa, tapi juga perkembangan budaya. Dengan hilangnya batas-batas negara, setiap orang akan lebih mudah mempelajari budaya yang berbeda dan mengalami akulturasi budaya. Masyarakat Barat yang modern mempelajari budaya ketimuran dan begitupun sebaliknya. Begitu tak terbatasnya dunia kita hari ini.

Bukan hanya kemudahan yang kita dapatkan darinya tapi juga tantangan besar ada di hadapan kita. Dampak kecil yang berarti besar bagi kehidupan sosial kita adalah teknologi memberikan batas antara kita. Orang-orang selalu fokus dan asyik dengan 'DUNIA MAYA' nya sendiri tanpa melihat lingkungan sekitar. Interaksi dengan sesama menjadi berkurang. Kepedulian sebatas like dan story di akun media sosial yang berbuah viral.

Isu positif atau negatif mudah berkembang oleh adanya komunikasi massa yang masif. Tapi tantangan besarnya adalah dapatkah kita melawan dan mendobrak batas yang tercipta dari perilaku manusia akibat kecanggihan teknologi? Dapatkah kita hidup dalam kubangan teknologi yang berkembang pesat?

Technology connecting us, but absolutely make a distance between us.
Dunia kita tanpa batas, tapi hubungan kita terbatas oleh teknologi yang mendobrak batasan. Limitless but limited.


Jumat, 24 Mei 2019

GAK TEMENABLE. NAJIS!

'BAPER, LU!'

Kata-kata itu sekarang jadi senjata ampuh ketika seseorang berhasil menyinggung hati orang lain. Iya, seakan kita tidak boleh marah dengan sesuatu yang menyinggung hati kita. Kita diarahkan untuk berbohong, kita baik-baik saja padahal kita tersinggung. Tapi demi gengsi enggan disebut BAPER oleh orang, akhirnya berlagak perasaan hati biasa saja, bahkan bikin drama seakan suasana hati senang dan bahagia.

Di kehidupan sehari-hari, di rumah sama keluarga, di sekolah atau kampus sama temen, di kantor sama rekan kerja, kita sering kan nemu istilah BAPER?

'DIH, GITU AJA BAPER. NAJIS!'
'BAPERAN DAH LU. GA ASIK'

Trend jaman sekarang, kalo BAPERan itu GAK KEREN. Kalo BAPERan itu GAK TEMENABLE. 

"Ih, diamah BAPERan, jangan ditemenin"
Sesimple itu ya, gais.

Tapi ada hal positifnya sih. Aku jadi belajar untuk memahami metode sendiri buat komunikasi dengan orang lain. Iya, caranya menebalkan hati agar tidak mudah BAPER, menebalkan muka suapaya ga malu pas dikatain. Dengan begitu aku bisa jadi orang yang mengontrol telinga dan hati jikalau ada orang yang perkataanya menyinggung hati.

Beberapa kali, kuwa kuwi aku tersinggung sama perkataan orang di sekitarku alias BAPER. Aku sering denger orang asal bicara tentang apa yang melekat sama diriku, suara yang aneh, lidah yang susah banget berenti ngomong, volume suara yang susah banget dikecilin, perut yang kapasitasnya ga sesuai sama badanku, segala apapun itu. Masih untung begitu. Iya, masih ada untungnya dikatain, karena mereka ngomong di depan muka ku secara langsung, bukan di belakang.

Mungkin kalau ada yang kenal sama aku, udah pernah ketemu aku, udah pernah ngobrol bareng aku, pasti udah tau tipe suara ku kaya apa. Sebagian orang bilang serak-serak basah, serak-serak becek, serak-serak banjir, serak-serak ujan, kaya orang nangis, kaya laki-laki, ngebass, apalah itu bebas kalian mau sebut apa. Bahkan yang paling aneh dan bikin kuping geli menurutku adalah suaraku pernah disebut kaya Lucinta Luna. Bayangin, gais! Kalian tau kan Lucinta Luna suaranya kaya gimana? Terkesan aneh banget ga sih suaranya doi? (Berharap pas upload tulisan ini, doi ga marah-marah dan minta klarifikasi kaya doi nongol di youtubenya Dedi Corbuzier. Aku ga bisa bayangin, gais. Aku ga mau terkenal gara-gara konflik dan skandal ga jelas yang suka disetting)

Aku juga pernah beberapa kali disuruh diem, karena katanya berisik. Pernah disuruh pindah ruangan, karena ga nyaman seruangan bareng aku. Haha. 

Ada juga orang yang ga mau ketemu aku, katanya ga suka sama suara aku. Oke, fine. Aku mencoba berlapang dada dan menyempitkan lobang kuping. I'm fine. So far so good. Terus aja aku semangatin diriku sendiri.

Iya, sampe pada tahap itu. Aku bukan orang yang direkomendasikan untuk ditemui karena suaranya ga bagus. PROK PROK PROK, akumah mau tepuk tangan aja atas pencapaian suaraku. 

Nang, lu pernah ga sih nyesel punya suara kaya gitu?

'Nang, lu keren kok. Suara lu bagus ko. Suara lu bisa bermanfaat kok. Buktinya waktu SMA, lu bisa menangin lomba kategori MC terbaik buat PASKIBRA Sekolah lu!!!!' bayangin ada versi nang pake baju putih cantik banget ada sayapnya kaya peri, berdiri di pundak bagian kanan. Plis deh, halusinasi banget.....

Karena ga mungkin aku pertanyakan ini ke yang nyiptain.

'Yaa Allah, kenapa suaraku begini? Kenapa suaraku aneh?'

Kalo aku kaya gitu, aku kurang ajar dong.... bersyukur aja sih mendingan. Udah dikasih, nawar lagi. Hamba macam apa begituu...

Never. Aku ga akan pernah nyesel sama suara yang aku punya. Ini pemberian Allah, cuy. Bersyukur aku bisa ngomong, ngeluarin suara. Banyak orang yang ngomong aja harus pake bahasa isyarat, dan bagi ku penyesalan adalah tanda-tanda orang lemah. Sayangnya, aku begitu gengsi untuk mengatai diriku sebagai orang lemah. Sudah cukup orang-orang ngatain aku, ga perlu aku katain diriku sendiri. Cukup menyemangati dan mendukung diri sendiri. Karena kalau bukan kita, siapa lagi yang setia negdukung dan nyemangatin apapun yang kita lakuin?

Apapun tingkah laku kita, bagaimanapun pembawaan diri kita, orang akan terus ngatain. Mau tau kenapa? Karena manusia, khususnya yang lahir dan besar di tanah +62 mayoritas adalah orang yang senang memberikan judge pada orang lain. Tidak suka dijudge tapi hoby memberikan judge. 

Intinya aku cuma pengen bilang, jangan BAPERan, nanti ga punya temen. Kalau mau BAPER pilih-pilih tempat. Misal kalau di kerjaan atau organisasi, jangan BAPER. Soalnya bakal menghancurkan stabilitas team work. Lebih luaskan pemikiran dan lapangkan hati, perkecil lobang kuping biar ge terlalu bisa denger kalo ada yang ngatain.

Anggap aja becanda. Toh mungkin orang juga cuma becanda ngatainnya.
Hahahahaha


Tapi itu semua wajar kok. Justru kalo orang ga protes karena aku yang berisik dan ga bisa diem, itu aneh. Kupingnya berarti keren, atau setipe sama aku.
Kita punya hak kebebasan buat mengekspresikan apapun, tapi ada hak orang lain yang harus kita dukung. Orang lain berhak hidup nyaman dan tenang, jadi kita wajib menjaga keamanan dan ketertiban.

So, aku sekarang memilih untuk diam dan bicara seperlunya, bercanda, tertawa, dan curhat seperlunya. Mungkin ini yang terbaik. Bukan berarti aku BAPER. Tapi aku mencoba untuk menjaga kenyamanan orang-orang di sekitarku. Aku tidak mau membuat orang tidak nyaman.

Tapi, orang-orang heran pas aku diem. Pas aku ga seberisik kemarin.
'NANG, LU KENAPA? KO GA KAYA BIASANYA? DIEM DIEM AJA. BIASANYA BERISIK'
'IYA, NANG. AKU KANGEN NI SAMA BERISIKNYA KAMU'

Udah diem masih diomongin, katanya aku suruh diem. Udah diem malah ditanya-tanya kenapa. Malah minta aku berisik. Maunya orang-orang ini apa sih? Akumah heran. Yaudah atuhlah akumah salah wae.
TUH BAPER. GA SERU!
wkwkwkwk
aing ketawa sorangan :'D


Jadi, JANGAN BAPERAN, NANG! LU GA TEMENABLE BERARTI. NAJIS!





Suka sama tulisan ini? Like
Semoga manfaat.
Ga ada maksud apa-apa
Hanya ingin curhat dan berbagi metode komunikasi ala aku.

Makasi udah baca. 

Jumat, 21 September 2018

Perempuan Membangun Peradaban

Deklarasi IMMAWATI INSTITUTE
Kamis, 20 September 2018


Studi dan kajian tentang perempuan selalu menarik untuk dibahas. Isu gender yang sudah sejak lama muncul dan berkembang banyak dipelajari di kalangan akademis dan aktivis. Walaupun begitu, pandangan tentang perempuan sebagai mahluk yang rendah atau derajatnya di bawah laki laki pada zaman pra islam, masih membekas dan melekat pada sebagian kalangan saat ini. Padahal islam telah membawa ideologi pemebebasan terhadap perempuan. Islam mengangkat derajat perempuan. Islam mengajarkan konsep egaliter bahwa perempuan dan laki-laki adalah setara, yang membedakan hanyalah taqwanya pada Sang Pencipta. Dengan latar belakang itu, IMMawati Cabang Cirendeu membentuk sebuah lembaga yaitu IMMAWATI INSTITUTE yang akan menjadi wadah bagi IMMawati untuk belajar, berinovasi, berkarya, dan berkontribusi bagi dakwah ikatan amar ma'ruf nahi munkar. 

Pada Kamis, 20 September kemarin, IMMAWATI INSTITUTE secara resmi dideklarasikan sebagai Lembaga Semi Otonom PC IMM Cirendeu, yang dilaksanakan di Aula Gedung Sekolah Pasca Sarjana UMJ. Deklarasi ini dihadiri oleh DPD IMM DKI Jakarta sekaligus meresmikan acara tersebut, dan tamu undangan dari PC IMM se-DKI Jakarta, serta tentunya IMMawan dan IMMawati se-Cabang Cirendeu.

Deklarasi ini digelar dan diawali dengan Studium General yang diisi oleh aktivis perempuan yakni Dr. Rohimi ZamZam, S.Psi., M.Pd. selaku Warek IV UMJ, Dr. Ulfah Mawardi, M.Pd., selaku Sekretaris Jendral PP Nasyiatul Aisyiyah 2012-2016, Tsani Itsna Ariyanti, S.S.I., selaku Ketua Bidang IMMawati DPD DKI Jakarta. Tema yang diangkat adalah Peran Perempuan dalam Membangun Peradaban. Tema ini dianggap cukup penting untuk dibahas, sebab dalam menghadapi perkembangan zaman, kemajuan teknologi, serta tantangan globalisasi, tentunya perempuan harus turut serta. 

Dalam ranah tertentu memang perempuan tidak bisa setara dengan laki laki. Namun untuk ranah keumatan, persyarikatan, bangsa dan negara, perempuan memiliki peran yang cukup besar. Perempuan sebagai madrosatul uula bagi anak-anaknya, artinya keberhasilan sebuah generasi ditentukan oleh bagaimana kualitas perempuan dalam mendidik. Bukan hanya itu, dalam ranah persyarikatan, bangsa dan negara, perempuan juga harus ikut ke dalamnya. Sehingga apa yang menjadi keresahan perempuan dan tidak dirasakan oleh laki laki, dapat tersampaikan dan diwujudkan. Sedikitnya minat perempuan untuk terjun dalam ranah persyarikatan masih belum banyak. Begitu pula dengan minat perempuan untuk terjun dalam ranah kebangsaan (dunia politik) sangat minim, dan terpaut jauh jika dibandingkan dengan laki laki. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya ialah masih kentalnya pandangan bahwa perempuan akan berkutat pada urusan rumah tangga setinggi apapun jabatan, dan pendidikannya. 

Dominasi laki laki yang masih tinggi harus dianggap sebagai pecutan bagi perempuan untuk maju dan tampil, bukan lagi sebagai subordinat. Dari Studium General ini, IMMAWATI INSTITUTE ingin menyampaikan bahwa perempuan khususnya IMMawati tidak boleh takut, ragu, dan minder dalam perjalanan amar ma'ruf nahi munkar di IMM. Karena IMMawati bukan hanya pelengkap, melainkan partnerIMMawan yang akan maju dan bergerak bersama dalam menjalankan roda dakwah ikatan. 

IMMawati harus siap menjadi pion terdepan menyuarakan keadilan dan pikiran-pikiran dalam perjalanan membangun peradaban. IMMAWATI INSTITUTE diharapkan dapat menjadi wadah dan jembatan bagi IMMawati dalam meningkatkan kualitas diri untuk menghadapi perjuangan di tiga ranah tersebut (umat, persyarikatan, dan bangsa dan negara). 

Minggu, 22 April 2018

Menjadi Kartini Setiap Hari

Ibu kita Kartini, Putri sejati. Putri Indonesia, Harum namanya Ibu kita Kartini, Pendekar bangsa. Pendekar kaumnya, Untuk merdeka Wahai ibu kita Kartini, Putri yang mulia. Sungguh besar cita-citanya, Bagi Indonesia
(penggalan lagu Ibu Kita Kartini cipt. WR. Supratman)

Setiap 21 April, semua wanita Indonesia memperingati hari lahir seorang puteri Indonesia yang harum namanya, Kartini. Tidak akan terlalu kaku, dan tidak juga terlalu gaul tulisan ini dibuat. Kali ini, entah kenapa saya ingin menuliskan apa yang ada dalam pikiran saya tentang perempuan-perempuan yang hidup di zaman sekarang, zaman now, milenial, entah apapun namanya. Beda sangat beda, zaman Kartini dengan zaman sekarang. Mungkin Kartini dulu mau sekolah tapi adat menghalanginya. Tapi lihat perempuan zaman sekarang, sekolah sudah banyak akses, uang sudah punya, tapi malas-malasan. Padahal di luar sana banyak perempuan yang susah sekolah kesulitan biaya. Adalagi, Kartini dulu senang sekali menulis surat, bahkan surat-surat itu dikumpulkan dan dijadikan sebuah buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Perempuan zaman sekarang lebih senang balas chat sang pacar atau hanya sekedar rumpi di grup whatsapp ketimbang menulis sesuatu hal atau mengerjakan sesuatu yg lebih bermanfaat. Ini tidak digeneralisir kepada semua perempuan, banyak juga perempuan yang rajin, bahkan banyak karya sudah dibuatnya. Hanya sekedar renungan, bahwa perempuan harus jadi manusia luar biasa. Perempuan memang tidak diberikan kekuatan fisik lebih seperti laki-laki. Namun perempuan memiliki peran luar biasa dalam keluarga. Pernah denger istilah "dapur, sumur, kasur'? Pasti pernah. Istilah itu adalah cambuk bagi perempuan, kenapa perempuan disepelekan hanya karena tiga wilayah itu, perempuan tidak perlu disekolahkan tinggi-tinggi. Saya rasa zaman sekarang orangtua sudah lumayan cerdas, mungkin di kota sudah jarang orangtua berpikiran begitu, tapi di desa-desa, di kampung masih banyak.
Memang, ketiga wilayah yang disebutkan tadi harus dikuasai perempuan, tapi kita harus cerdas, perempuan tidak akan bisa menjalankan ketiga hal itu kalau tidak punya ilmu. Apalagi, perempuan berkewajiban mendidik anaknya mulai dari dalam kandungan. Zaman modern kaya sekarang, ilmu pengetahuan semakin maju, bahkan ilmu agama yang dulu dipandang ga asik, justru sekarang sebaliknya, banyak majelis diserbu pemuda dan pemudi. Percayakah kalian kalau perkembangan ini didukung sama media sosial? Harus percaya, beberapa tahun belakang, banyak pemuda dan pemudi mulai berubah alias berhijrah. Bahkan perempuan yang dulu alergi sama kerudung, sekejap bisa pake cadar. Alhamdulillah, perkembangan zaman ini mendukung kepada hal yang baik. Balik lagi ke perempuan, ya perkembangan zaman ini bisa positif dan juga negatif buat perempuan khususnya. Mungkin itu gambaran di kota yang dimudahkan akses informasi menyebar secara cepat yang dampaknya akan memudahkan masyarakat buat belajar, tapi beda lagi di desa dan pedalaman. Jangan pikir kalau perempuan Indonesia sudah maju seluruhnya, belum. Perjuangan kemerdekaan perempuan belum selesai. Masih banyak perempuan Indonesia yang belum berpendidikan, bahkan menikah di usia dini –mungkin bisa dibedakan menikah usia dini dengan menikah muda, menikah usia dini artinya belum cukup umur alias masih anak-anak tapi udah nikah, sedangkan nikah muda, menikah di usia yang sudah matang tapi umurnya masih muda. Ketua Umum PP Aisyiyah, ibu Siti Noordjannah Djohantini bilang "…. Masalah pernikahan anak, ketimpangan akses antara laki laki dan perempuan di bidang pendidikan, dan masalah kesehatan ibu masih menjadi pekerjaan rumah bangsa ini yang harus diatasi bersama...." Artinya, perjuangan Kartini seabad lebih lalu harus jadi renungan buat kita, apalagi perempuan. Karna sebenarnya perjuangan Kartini belum selesai sampai sekarang. Kartini pernah bilang "Akana datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputera; kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh karena orang lain" kata-kata itu ada dalam surat Kartini kepada Nona Zeehandelaar, 19 Januari 1901). Jadi waktu itu kartini berharap, kalau pun bukan ia yang bisa membawa perubahan, maka orang lain akan membawanya. Kita harus jadi orang lain itu. Kita harus membawa perubahan untuk perempuan berkemajuan.
Perempuan zaman sekarang, lebih senang disebut cantik daripada cerdas (mungkin ga semua), lebih senang update info kecantikan dibandingkan ilmu pengetahuan atau agama (mungkin ga semua juga), bahkan masih banyak perempuan yang senang dipuji badannya indah dan elok dipandang oleh lawan jenis, membuka aurat bahkan tidak ragu mengunggahnya di media sosial (inipun ga semua begitu). Perempuan, kalian berharga, tidak terlalu penting cantik fisikmu, yang lebih penting cantik hatimu dan akhlaq mu. Zaman sekarang, yang perlu dibenahi bukan lagi soal kesetaraan, semua bahkan sudah pintar bicara kesetaraan, tapi lebih lagi ke dalam pribadi seorang perempuan. Bagaimana lebih menghargai dirinya dengan menjaga dari lawan jenis yang bukan mahramnya. Tidak dapat dipungkiri kalau perempuan zaman sekarang banyak yang terpengaruh budaya barat. Kartini dulu terpengaruh budaya Barat juga, tapi budaya Barat yang aktif sekolah, senang belajar, bahkan tidak ragu pergi ke luar negerinya meninggalkan keluarga hanya untuk sekolah. Tapi memang budaya itu bukan Barat murni, nabi Muhammad pun menganjurkan umatnya belajar sejauh mungkin, pergi berhijrah untuk menuntu ilmu.
Hari Kartini bukan ajang untuk pamer kebaya tahunan, tapi lebih dari itu, kita perempuan sebenarnya punya PR lebih besar. Perempuan harus tau, bagaimana caranya jadi perempuan yang berkemajuan tapi tetap pada kodratnya. Ingat, tetap pada kodratnya, tidak boleh melebihi batasan wilayah dari kodrat seorang perempuan. Mulai sekarang baiknya kita perempuan-perempuan pemegang kendali penerus bangsa, harus berkemajuan. Kenapa saya bilang pemegang kendali penerus bangsa? Sebelumnya sudah dijelaskan kalau perempuan itu mendidik anaknya sejak anak itu berada di dalam kandungan. Seorang anak akan belajar dan sekolah di tempat yang bernama "madrasah ibu". Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kalau perempuan akhlaqnya hancur, maka bangsa itu akan hancur. betapa mulianya seorang perempuan kann? hargailah diri kalian wahai perempuan-perempuan. Jadi, perempuan Indonesia harus jadi Kartini setiap hari, tidak hanya memperingati, tapi mengikuti semangat juang Kartini untuk bebas punya kesempatan dan hak yang sama dengan laki laki, karena sejatinya laki laki dan perempuan sama yang membedakan hanya ketaqwaan pada Allah. Tapi bukan berarti perempuan bisa menjadi seperti laki laki dan begitu sebaliknya, bukan. Ada beberapa wilayah yang tak bisa diganggu gugat, yaitu kodrat.
Pada akhirnya, perempuan saat ini harus bisa memaknai Hari Kartini untuk renungan, dann motivasi, karena spirit perjuangan Kartini belum selesai, kita harus terus lanjutin spirit itu. Banyak tokoh wanita yang juga memperjuangkan hak perempuan, kita juga bisa dan harus ikut berjuang.

Saya ucapkan Selamat Hari Kartini untuk Perempuan-perempuan Indonesia.
Jakarta, 21 April 2018 Dinar Me

Jumat, 06 April 2018

SEDIKIT HOROR TAPI GA MENAKUTKAN, CUMA BIKIN DEG DEGAN

selamat berjumpa kembali teman-temaan. lama tak updaet blognya. 
Sekarang entah kenapa lagi pengen ceritain pengalaman langka yang dialami dalam hidup. Jarang banegt ngalamin, jadi sekalinya ngalamin langsung shock gimana gitu. Begini ceritanya.......

Seperti biasa, pulang kerja nyampe di kosan sekitar 22.00 - 23.30 an. Kejadian ini barusan malem banget, 5 April 2018 (dan itu malem jumat, padahal ga ada urusan mau malem apapun namanya pengalaman kaya gini bikin ngeri). Jadi gini guys, rutinitas nang seperti biasa kan emang pas nyampe, bebersih terus tidur. Nah, semalem nang buka pintu dikit supaya masuk angin karena agak gerah gitu. Sambil chat-chatan di whatsapp. Selang waktu satu atau dua menit, kedengeran ada orang jalan gitu, tapi emang ada suara jalan kaya diseret gitu kakinya. Penasaran nang liatin dari dalem, lewatlah, keliatan kakinya doang, celana warna gelap panjang sampe mata kaki, dan sendal jepit. Awalnya kaget karena posisinya mau tidur, takutnya laki-laki. Deg-degan nya bukan karena nyangka kalo yang barusan lewat adalah bukan manusia. Refleks, nang tutup pintu, matiin lampu, tidur (walaupun susah banget meremnya karena masih deg-degan. Ternyata lam-lama suara langkah kaki diseret itu ilang, malah kedengerannya suara acara tv dari kamar sebelah, suaranya kecil banget, ditambah suara orang yang lagi ke dapur. tapi memang setelah lewat depan kamar beberapa detik kemudian ada suara orang buka pintu. Kejadian itu ga lama, beberapa detik doang. itu semua bikin deg-degan dan susah tidur. alhasil setengah satu nang baru tidur setelah menenangkan diri dan coba lupain dengan lanjut chatan, tapi temen nang yang diceritain malah takut dan dia menghilang dari roomchat. haduuuuh. haha
Sampe saat ini nang masih penasaran siapa yang lewat depan kamar semalem. soalnya bapak penjaga kos kakinya normal-normal aja, sehat wal'afiat.

Jujur ini pengalaman pertama yang beginian sendiri. Tapi ga usah dijadiin heboh juga. Ambil hikmahnya aja, kalo itu manusia, ya artinya kita ga boleh suudzon. Kalau bukan manusia yaa artinya namanya juga sama-sama mahluk Allah kan. Santai aja, jangan lebay dan panik. Dia ga ngapa-ngapain ko, cuma lewat (padahalmah cukup menegangkan, kaya lagi nonton film horor. Bedanya ini live, wkwkwk). Banyak-banyak mengingat Allah aja. Iman kepada yang ghoib itu perlu. tapi bukan berarti jadi musyrik segala dicari tau asal usul hantu dulu pas hidupnya gimana, sampe akhirnya manusia ini jadi hantu gentayangan pas setelah meninggal. Setau nang ya, namanya manusia udah meninggal putus segala amalannya kecuali 3 yaitu amal jariyah, doa anak sholeh/hah, dan ilmu yang bermanfaat. Jadi ga da urusan lagi tuh manusia kalo udah meninggal, dan ga ada istilah hantu gentayangan.

sekian, sampai jumpa di cerita, artikel, dan info lainnya.

sugoi_ ^-^

Senin, 09 Oktober 2017

UNIK. PENDIDIKAN POLITIK DISAMPAIKAN DENGAN BAHASA SUNDA.

IMMagazine NEWS
IMM KOM FISIP UMJ

Sudah sepatutnya mahasiswa mengabdikan diri kepada masyarakat. Akhir bulan lalu, tepatnya pada 30 September 2017, BEM FISIP UMJ melaksanakan program Pendidikan Politik dalam bentuk penyuluhan PILKADA kepada warga desa Cibuyutan, Bogor, Jawa Barat. Program ini merupakan program BEM UMJ., yaitu desa binaan. Setiap fakultas harus membuat program sesuai dengan background keilmuan masing-masing.
BEM FISIP UMJ mendapatkan kesempatan untuk menghadirkan program sesuai dengan bidang
keilmuannya. Sebelum melaksanakan program di sana, BEM FISIP UMJ membaca hasil social
maping yang telah dilakukan oleh BEM UMJ selama satu bulan. Hasil social maping menggambarkan bahwa di desa Cibuyutan, masih marak money politic. Oleh karenanya, perlu ada pendidikan politik bagi warga setempat khususnya pemilih pemula. Hal ini didukung juga
dengan akan dilakukannya PILKADA pada april 2018 mendatang. Jawa Barat adalah salah satu daerah yang melakukan Pemilihan, jadi program BEM FISIP UMJ dinilai sangat relevan dan sesuai dengan kebutuhan desa Cibuyutan. Sasaran program adalah warga desa Cibuyutan khususnya pemilih pemula agar menambah wawasan, pengetahuan dan meningkatkan partisipasi masyarakat desa Cibuyutan.

Alasan BEM FISIP membuat program penyuluhan ini adalah kurangnya partisipasi masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya. Masyarakat di sana berpikiran bahwa belum tentu orang yang dipilih meperhatikan mereka. Makanya ada money politic untuk menarik masyarakat agar mau memilih. Ada yang menarik dengan money politic di sana. Ternyata budaya money politic ini dikemas dengan nama ‘uang es’. Kenapa dinamakan uang es? Sebab medan atau area dari desa ke TPS sangat susah dan jauh. Desa Cibuyutan berada di lereng gunung, sedangkan TPS ada di pinggir jalan raya, hal ini yang membuat masyarakat setempat malas untuk berpartisipasi dalam pemilihan. Jadi, masyarakat diberikan uang untuk beli es agar tidak kehausan di perjalanan menuju TPS. Namun, uang es ini belum diketahui asalnya dari siapa. Pada program penyuluhan ini, Bapak Djoni Gunanto, SIP., M.Si., yang juga dosen FISIP menjadi narasumber, “Kegiatan BEM FISIP di sana adalah penyuluhan, dengan narasumber dosen fisip UMJ, Bapak Djoni Gunanto. Jadi beliau memberikan materi terkait PILKADA dan KPUD Bogor. Namun ada yang berbeda dan unik sekali. Tidak seperti penyuluhan-penyuluhan biasa. Uniknya terletak pada bahasa yang digunakan, bukan bahasa Indonesia melainkan bahasa sunda. Mulai dari moderator hingga narasumber. Salut pokoknya untuk Pak Djoni”, tutur ketua BEM FISIP UMJ, Umu Nusaibah sambil mengacungkan jempol. Bahasa sunda digunakan sebagai alat komunikasi dalam penyuluhan sebab masyarakat di sana sangat pasif dalam berbahasa Indonesia. Walaupun sebenarnya bisa berbahasa Indonesia, namun untuk merespon dengan bahasa Indonesia
masyarakat Cibuyutan sedikit kesulitan. Maka dari itu, BEM FISIP bersama narasumber berinisiatif untuk menggunakan bahasa sunda selama penyuluhan berlangsung. Hal ini dinilai berhasil oleh Umu, sebab jumlah yang hadir sangat banyak memenuhi ruang kelas hingga teras/halaman di luar kelas. Umu juga menggambarkan suasan penyuluhan di sana sangat ramai, dan seru. Sepertinya informasi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat, sebab mereka sangat enjoy bahkan tidak jarang ada gelak tawa disela penyuluhan. Cara ini mungkin bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang kesulitan dalam mensosialisasikan
hal tertentu di kalangan masyarakat desa pedalaman.(dm).

Kamis, 07 September 2017

Lagu The Changcuters dan Cerita Pengabdian


Tulisan ini dipersembahkan untuk seluruh Mahasiswa KKNMU Untuk Negeri 2017, angkatan IV dan masyarakat Desa Seri Kembang III, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Tak tampak gedung yang menjulang. Hanya sawah yang membentang. Hijau daun pohon rindang. Sungai jernih penuh ikan. Orangpun beri senyuman. Riang saling jabat tangan. Tak tampak ada kemacetan. Hanya sepeda dan delman. Saling berkejar-kejaran. Bocah ramai berlarian. Mengitari taman-taman. Bernyanyi dan berpengangan. Bila malam gelap menjelang, langit terang bertabur bintang dan problema hidup seperti menghilang. Aku telah merindu, kampung halamanku. Tak sabar hatiku untuk lekas jumpa orang tua.[1]
            Begitu lagu salah satu band asal Indonesia, The Changcuters, membuat aku rindu akan kampung halaman baruku, Seri Kembang. Mendengarkan lagu ini, bukan Bogor (kampung halamanku) yang kuingat, melainkan Ogan Ilir. Bukanlah sebuah bentuk pengkhianatan terhadap Bogor sebagai tanah kelahiranku. Tapi, aku merasa Seri Kembang telah menjadi kampung halaman bagiku. Karena di sana aku menemukan keluarga baru, walaupun tidak sedarah tapi aku dan mereka menjadi kami, keluarga. Tak terasa sudah satu minggu aku meninggalkan Desa Seri Kembang, yang memberikan banyak kenangan. Lagu itu benar-benar menggambarkan suasana di sana. Tak ku lihat ada gedung tinggi layaknya di sini (Jakarta), yang ada hanyalah pohon dan kebun di kanan dan kiri. Tak tampak ada macet layaknya di sini (Jakarta), yang ada hanyalah gerombolan sapi dan kambing yang dilepas bebas. Ramahnya masyarakat dan riangnya anak-anak membuat hati tentram dan nyaman. Hangatnya keluarga Pak Kades dan kebersamaan teman-teman baru membuat diri ini tak kuasa bergegas cepat-cepat pergi. Aku juga berasal dari sebuah desa di kabupaten Bogor, tapi Seri Kembang berbeda. Desa ini benar-benar desa (walaupun sudah ada Alfamart, hehe….). Suasana ini membuatku betah dan bertanya, mengapa satu bulan saja???? Jika Bang Toyyib saja betah berlama-lama meninggalkan istri dan anak tiga tahun lamanya tanpa alasan yang jelas. Maka kenapa kami hanya diberikan kesempatan satu bulan saja meninggalkan keluarga untuk alasan pengabdian??? Yah, kupikir awalnya satu bulan adalah waktu yang cukup untuk KKN. Ternyata aku salah prediksi, KNN ini justru menjadi guru bagiku. Guru untuk mengajarkan rasa syukur. Alhamdulillah, tanah ini kaya, indah, megah walau tanpa gedung-gedung tinggi seperti di Jakarta.
            Kesan pertama ketika ku injak tanah Ogan Ilir adalah Bolang[2].Bocah Petualang yang sangat ceria bermain dengan indahnya alam. Iya, aku merasa masa kecilku kembali lagi. Masa kecil yang aku habiskan untuk bermain, mencari ikan di sawah, memetik jeruk di kebun, memanjat pohon jambu, bermain layangan di lapangan. Rasanya media bermainku hanya alam ini. Sudah sekitar 14 tahun lalu aku merasakan indahnya alam untuk bermain. Sekarang, hanya tinggal kenangan. Namun ketika aku sampai di Palembang dan diantarkan ke Ogan Ilir, aku merasakan kembali suasana masa kecilku yang amat ku rindu. Bagaikan Bolang yang berangkat ke Palembang, ke Seri Kembang. Senang bukan kepalang.
Sambil menjalankan program, aku dan teman-teman sekelompok mencuri waktu berjalan ke kebun nanas dan karet untuk berpetualang. Menakjubkan, menjadi seorang petani karet tidak semudah yang kubayangkan. Ku pegang pahat[3], batang karet ku sayat. Tak ku sangka betapa sulitnya menyayat batang pohon karet. Ternyata ini yang dilakukan oleh masyarakat yang mayoritas sebagai petani karet. Di waktu subuh pergi ke kebun, menyayat batang pohon karet, dan memanen setiap hari. Pemandangan yang cukup asing bagiku melihat keseharian masyarakat desa. Sepi di pagi hari, ramai di sore yang cerah.
Bocah beramai-ramai setiap malam ke posko untuk belajar, mengaji, mengerjakan PR, bermain, bahkan hanya sekedar berbincang dengan ayuk[4] dan kakak[5] KKN. Mereka antusias menyambut kami. Setiap bertemu di jalan atau dimanapun, mereka selalu menyapa dan berteriak “KKN!! KKN!!” dengan wajah sumringah. Haru melihat betapa gembiranya mereka kedatangan kami dari berbagai daerah. Akupun gembira, kedatanganku dan teman-teman KKN lainnya sangat diterima. Hubunganku dengan anak-anak semakin hari semakin dekat. Aku tahu, bahwa mereka tidak ingin kami pulang. Sebab mereka ingin tetap ada yang membimbing belajar dan bermain. Berat hati ini ketika membaca surat-surat yang diberikan oleh anak-anak sebelum kepulangan kami. Terlebih jika aku ingat ketika salah seorang dari mereka menginginkan aku tetap tinggal di Seri Kembang untuk mengajar sampai ia pintar, “Dek, ayuk minta maaf. Ayuk ndak bisa lama-lama di sini. Walaupun ayuk pulang, kamu harus tetap semangat mengaji, menghafal al-quran, dan belajar” Berat hati ini mengatakannya.
Petualangan ini menjadi episode paling berharga, dan menakjubkan selama aku hidup. Selalu setiap teman dan dosenku bertanya “Bagaimana KKN di Palembang?” Aku selalu menjawab “Enak, pengen nambah sebulan lagi.” Jawaban itu adalah jawaban paling pas untuk menggambarkan KKN ini. Enak, yang bikin enak yaitu suasana desa penuh pepohonan, tanpa macet dan yang pasti kapal selam, lenjer, kulit, model, tekwan yang hampir setiap hari mampir di perutku. Puas rasanya aku bertemu sekawanan mpempek yang amat nikmat. Lelahnya melaksanakan program KKN tidak terasa, semua ringan kami kerjakan. Kami semua sangat senang dengan desa ini.  
Satu hari menjelang kepergian kami, hujan turun tiada henti, biasanya hujan tak begini. Mungkin ia tahu, bahwa esok aku dan teman-temanku akan pergi, kembali ke rumah masing-masing. Langitpun menangis mengiringi kepergian kami. Tak sadar, pipiku basah. Tetesan air mata ini keluar tak bisa ditahan. Perpisahan ini selalu ku ingat setiap saat. Berat hati ku meninggalkan keluarga baruku, ibu, bapa, ayuk, kaka, adik, semua keluarga bagiku. Satu bulan saja, kurang rasanya. Masih banyak yang ingin aku lakukan. Petualangan ini menjadi kenangan. Tapi kenangan bisa menjadi sebuah cerita indah untuk bernostalgia kelak jika aku diberikan kesempatan bertemu keluarga baruku lagi di Ogan Ilir. Teman-teman baru dari berbagai daerah, keluarga baru layaknya keluarga sendiri, membuatku nyaman dan betah tinggal di Seri Kembang. Kisah petualangan ini akan menjadi tulisan yang luar biasa bagiku, akan aku bagikan ke anak dan cucuku nanti. Terimakasih Seri Kembang, kau hadiahkan aku kisah petualangan yang luar biasa berharga.
Alam yang indah. Alam yang penuh makna. Akankah aku kembali ke sana?

Jakarta, 7 September 2017, 20:10 WIB
Dinar Meidiana
Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta



[1] Lirik lagu Rindu Orang Tua dari The Changcuters.
[2] Si Bocah Petualang salah satu program sebuah stasiun TV swasta yang menggambarkan kehidupan anak-anak di desa. Biasanya setiap episode menceritakan tokoh Bocah yang berbeda dari setiap daerah di Indonesia.
[3] Pahat adalah alat untuk menyayat batang pohon karet untuk mengeluarkan getahnya.
[4] Panggilan kakak perempuan
[5] Panggilan kakak laki-laki

Rabu, 12 Juli 2017

Bedanya Musyawarah dengan Voting

Indonesia merupakan negara dengan usia demokrasi yang masih sangat muda. Bahkan diusianya yang tergolong muda, keberanian Indonesia untuk melakukan pemilihan langsung sangat patut diacungi jempol. Kenapa? Sebab Indonesia adalah negara luas, negara kepulauan. Bayangkan pemilihan langsung secara serentak dilakukan di seluruh provinsi yang saat ini sudah mencapai 34 provinsi. Kondisi negara Indonesia dengan berbagai kebudayaan juga menjadi salah satu kendala dalam pemilihan umum. Contohnya, beberapa daerah di Papua yang masyarakatnya cenderung masih menggunakan system sosial adat Papua yang masih tradisional. Kepala suku menentukan siapa pemimpin yang akan dipilih, maka jangan heran ketika terdapat kasus surat suara dicoblos dengan cara surat suara ditumpuk kmudian dicoblos pada gambar calon yang sama. Bukan sebuah kecurangan, namun ini adalah aturan bahwa masyarakat suku memberikan kewenangannya untuk memilih kepada kepala suku. Beberapa hal tersebut merupakan kekurangan dalam teknis pemilihan. Namun yang paling peting adalah konsep voting dengan one man one vote yang ditawarkan demokrasi menjadi salah satu hal yang dinilai kurang baik untuk memilih pemimpin maupun mengambil sebuah keputusan. Setiap orang, siapapun orangnya, apapun profesi, pekerjaan, dan pendidikannya, yang telah memenuhi syarat untuk memilih sama-sama memiliki satu suara. Antara suara orang tidak berpendidikan dan professor, juga suara preman dan ustadz disamakan, tidak ada bedanya. Banyak orang bilang demokrasi adalah system terbaik. System dengan pemerintahan rakyat dianggap baik dan bagus diterapkan. Tapi, apakah benar demokrasi adalah
system terbaik?

Jika kita melihat kembali ke zaman pada masa Rasulullah memimpin Madinah, jauh sebelum Indonesia terlahir menjadi sebuah negara yang berdaulat. Islam telah lebih dulu
menjalankan sebuah roda pemerintahan. Sebutlah masa kekhalifahan mulai dari Rasulullah, Abu Bakar Asshiddiq, hingga Ali bin Abi Thalib. Pada masa itulah, roda pemerintahan dijalankan sesuai dengan ajaran Allah (Al Quran) dan Rasul (Hadits). Memang Indonesia bukanlah negara islam, tapi tidak ada salahnya kita mengambil pelajaran dari para ulama terdahulu.

Rasulullah tidak mengenal teori trias politica yang membagi kekuasaan antara eksekutif, legislative, dan yudikatif. Namun Rasulullah telah menciptakan dan menjalankan sebuah system pemerintahan yang sangat baik. Pemerintahan pada masa khalifah juga tidak mengenal one man one vote layaknya dalam demokrasi. Islam mengajarkan untuk bermusyawarah dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk untuk memilih seorang pemimpin. Kita dapat mengartikan
musyawarah dari asal kata syawaroh (bahasa Arab) yang artinya memeras madu. Dalam kegiatan memeras madu, akan diambil madu paling bagus, bersih, dan murni yang sudah terpisah dari sarangnya. Begitupula dengan musyawarah, mencari solusi yang paling baik dan tepat, dan yang
terpenting bukan hasil suara terbanyak. Keputusan yang dihasilkan dari suara terbanyak belum tentu keputusan terbaik.

Proses memilih pemimpin pada masa itu menggunakan musyawarah sebagai cara yang wajib digunakan. Satu hari setelah nabi wafat, tokoh masyarakat dari dua suku besar yakni Muhajirin dan Anshar melakukan pertemuan di Tsaqifah Bani Saidah untuk bermusyawarah memilih pemimpin menggantikan Rasulullah. Pada forum musyawarah tersebut, terpilihlah Abu
Bakar sebagai khalifah. Abu bakar terpilih dengan proses yang tidak singkat. Awalnya kaum Anshor telah memilih satu orang untuk dijadikan pemimpin yaitu Saad bin Ubadah. Mereka berpendapat bahwa kaumnya lebih berhak memimpin dibanding kaum Muhajirin yang merupakan pendatang. Namun Umar bin Khattab menegaskan bahwa Arab tidak mengenal halsemacam itu. Pada akhrinya kedua kaum sepakat untuk memilih pemimpin dari kaum Quraisy
sebab Rasulullah berasal dari kaum Quraisy. Maka Abu Bakar meminta Umar bin Khattab mengulurkan tangannya untuk dibai’at. Tapi Umar menolak, alasannya adalah pada saat Rasul sakit dan tidak dapat menjadi imam shalat di masjid, Rasul hanya menginginkan Abu Bakar yang menjadi imam shalat menggantikannya. Jadi, Umar berpendapat bahwa Abu Bakar adalah orang yang pantas menjadi pemimpin (khalifah). Begitulah proses musyawarah memilih pemimpin pada saat itu. Bukan dari siapa yang memperoleh dukungan terbanyak, tapi siapa yang terbaik dan pantas untuk menjadi seorang pemimpin.

Musyawarah untuk menentukan pengganti Rasulullah dilakukan oleh perwakilan dari kaum Muhajirin dan Anshar yang dipercaya oleh masing-masing kaumnya. Perwakilan ini disebut ahlul halli wal aqdhi. Ahlul halli wal aqdhi merupakan sebutan bagi orang –orang yang dipercaya untuk memilih pemimpin. Rakyat percaya bahwa perwakilannya dapat memilih pemimpin yang baik. Rakyat menerima dan ikhlas dengan semua keputusan. Tidak sampai disitu, Ahlul halli wal aqdhi juga bertugas untuk memusyawarahkan untuk memilih pemimpin pada saat kepemimpinan Umar berakhir. Konsep one man one vote sangat bertolak belakang dengan
konsep Ahlul halli wal aqdhi. Rakyat memberikan kepercayaan penuh kepada Ahlul halli wal aqdhi yang dianggap mampu untuk mendapatkan hasil keputusan terbaik, karena merekalah yang dari segi ilmu dan pengetahuan sangat jauh diatas masyarakat lainnya. Bandingkan dengan konsep one man one vote, setiap orang memiliki hak yang sama dalam memilih. Jika saja orang yang memiliki hak pilih adalah orang yang tidak berpengetahuan, maka ia akan memilih dengan subjektifitas dirinya. Tidak heran banyak praktik money politic di Indonesia, sebab menarik
massa untuk memilih hanya dengan selembar uang kertas. Sedangkan Ahlul halli wal aqdhi, memilih pemimpin dengan asas musyawarah yang akan menghasilkan keputusan terbaik. Ahlul
halli wal aqdhi akan mencari kelemahan, kekuatan, kekurangan, kelebihan, dan apapun sampai
mememukan titik yang paling pas untuk solusi dari persoalan yang dimusyawarahkan.

Ahlul halli wal aqdhi terdiri dari para ulama, para pemimpin suku, pemuka masyarakat, yang dianggap mampu untuk memilih pemimpin. Apabila dilihat tugas dan fungsi ahlul halli wal
aqdhi hampir bahkan sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat atau Majelis Permusyawaratan Rakyat. Bedanya, lembaga tersebut kini sudah tidak lagi berhak memusyawarahkan untuk
memilih pemimpin seperti dulu kala.

Sabtu, 10 Juni 2017

DIASPORA SEBAGAI DAKWAH MAHASISWA MUHAMMADIYAH

_Breaking News_

Sabtu, 10 Juni 2017. Ketua Umum IMM Kom. FISIP, Moh. Rofiie menyatakan ketegasannya dalam pencalonan ketua dan wakil ketua BEM FISIP UMJ, bahwa IMM mendiasporakan kadernya tidak lain tidak bukan tujuannya untuk mendakwahkan nilai-nilai Muhammadiyah. IMM FISIP UMJ tidak haus jabatan seperti yang diisukan oleh banyak orang, melainkan ingin menjalankan kewajibannya untuk mendakwahkan nilai-nilai Muhammadiyah. IMMawan Rofiie juga mengajak seluruh Kader IMM untuk turut serta mendorong dan mendukung setiap kader yang didiasporakan ke lembaga kampus. Dalam usaha berdakwah di lingkungan FISIP UMJ, IMM akan tegas dalam mengkualifikasikan standar untuk me diasporakan kadernya ke lembaga kampus. Jadi, kader yang didiasporakan tidak sembarangan. Kita sebagai kader IMM memiliki trilogi yang harus diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, setiap usaha yang dilakukan termasuk mendiasporakan kader harus diusahakan dan didukung oleh seluruh kadernya. (dm.) SEBAGAI DAKWAH MAHASISWA MUHAMMADIYAH
Sabtu, 10 Juni 2017. Ketua Umum IMM Kom. FISIP, Moh. Rofiie menyatakan ketegasannya dalam pencalonan ketua dan wakil ketua BEM FISIP UMJ, bahwa IMM mendiasporakan kadernya tidak lain tidak bukan tujuannya untuk mendakwahkan nilai-nilai Muhammadiyah. IMM FISIP UMJ tidak haus jabatan seperti yang diisukan oleh banyak orang, melainkan ingin menjalankan kewajibannya untuk mendakwahkan nilai-nilai Muhammadiyah. IMMawan Rofiie juga mengajak seluruh Kader IMM untuk turut serta mendorong dan mendukung setiap kader yang didiasporakan ke lembaga kampus. Dalam usaha berdakwah di lingkungan FISIP UMJ, IMM akan tegas dalam mengkualifikasikan standar untuk me diasporakan kadernya ke lembaga kampus. Jadi, kader yang didiasporakan tidak sembarangan. Kita sebagai kader IMM memiliki trilogi yang harus diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu, setiap usaha yang dilakukan termasuk mendiasporakan kader harus diusahakan dan didukung oleh seluruh kadernya. (dm.)

Rabu, 07 Juni 2017

Indonesia negeri Liberal

Indonesia, negara dengan kekayaan yang melimpah. Kekayaan Indonesia meliputi pertambangan, perikanan, kelautan, perkebunan, pertanina, dan lain-lain. Berdasarkan UU pasal 33 yang menjelaskan bahwa perekonomian berdasarkan demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi seluruh rakyat. Cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hidup orang banyak harus didikuasai oleh negara. bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Artinya, kekayaan alam yang dimiliki negara Indonesia harus dikelola oleh negara dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat banyak sebagi kesatuan antara unsur rakyat, wilayah, dan pemerintah. Negara memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengatur tata guna atau hubungan hukum yang me nyangkut hal tersebut. Para pemimpin Indonesia yang menyusun Undang Undang Dasar 1945 mempunyai kepercayaan, bahwa cita-cita keadilan sosial dalam bidang ekonomi dapat mencapai kemakmuran yang merata, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
 Dari sabang sampai merauke, potensi kekayaan alam yang dimiliki negara Indonesia sangatlah banyak. Namun, percayalah bahwa kemiskinan masyarakat di kawasan yang SDAnya dieksploitasi sangat memprihatinkan. Ini bukan hanya sekedar gossip atau isu belaka, ini fakta. Banyak daerah yang lahannya dieksploitasi untuk meningkatkan perekonomian negara malah menjadi boomerang bagi masyarakat setempat. Salah satu contoh kasus eksploitasi alam adalah sengketa petani di Teluk Jambe, Karawang dengan perusahaan properti PT Pertiwi Lestari. Petani di Telukjambe terusir dari lahannya, sebab PT Pertiwi Lestari telah mendapatkan sertifikasi lahan dari Kemeterian Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Sehingga lahannya digunakan oleh perusahaan tersebut dan meratakan semua bangunan yang merupakan rumah dari para petani. Jumlah petani kurang lebih 200 orang yang diungsikan ke rusun karena tidak memiliki tempat tinggal. Sampai saat ini, kasus ini masih dalam proses penyelesaian. Kasus senengketa lahan Telukjambe adalah salah satunya. Masih banyak potret kemiskinan, ketidakmampuan rakyat menghadapi para kaum kapitalis yang dapat melakukan apa saja.  
Menurut data di naskah akademis RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara amanat yang terkandung dalam pasal 33 belum terimplementasikan dengan baik. Alasannya, satu, terdapat banyak peraturan perundang-undangan (perpu) yang mengatur tentang pengelolaan kekayaan negara. Perpu yang sudah ada belum komprehensif dan terpadu antara satu dengan yang lainnya, sehingga belum bisa untuk mencapai tujuan dari UU pasal 33. Dua, belum ada sistem pengelolaan yang komprehensif. Salah satu kelemahan pemerintah dalam pengelolaan kekayaan negara adalah inventarisasi kekayaan negara. Hal ini menyebabkan pemerintah tidak memiliki database kekayaan negara secara menyeluruh sehingga banyak potensi kekayaan negara yang tidak teridentifikasi dan belum optimal untuk kemakmuran rakyat. Tiga, pengelolaan kekayaan negara belum proporsional. Ada 3 faktor yang diperlukan untuk pengelolaan kekayaan negara yang proporsional, yaitu: (1) factor ekonomi; (2) factor sosial; (3) factor ekologi. Saat ini pengelolaan kekayaan negara masih mengedepankan factor ekonomi. Jadi, pengelolaan kekayaan negara ditujukan untuk pertumbuhan ekonomi. Namun hal ini tanpa mengikutsertakan dua factor lainnya (sosial dan ekologi), sehingga masih banyak rakyat Indonesia yang miskin walaupun negaranya kaya. Selain itu kelestarian alam belum juga menjadi konsen dalam pengelolaan kekayaan alam, sebab tidak dapat dipungkiri bahwa sumber daya manusia di Indonesia yang kurang berkualitas menyebabkan tidak terjaminnya permasalahan ekologi dapat terintegrasi dalam pengelolaan kekayaan negara. Empat, belum ada pembagian kewenangan yang jelas dalam pengelolaan kekayaan negara baik antar sector maupun antara pemerintah daerah dan pusat. Akibatnya, timbul potensi konflik diantara pihak-pihak terkait yang disebabkan oleh banyaknya peraturan perundang-undangan sektoral terkait dengan pengelolaan kekayaan negara yang belum diduking dengan harmonisasi dan koordinasi yang baik.
Disamping kondisi pengelolaan kekayaan negara di atas, pemerintah dan rakyat Indonesia tentunya sangat mengharapkan kondisi ideal dalam mengelola kekayaan negara. sesuai dengan UU pasal 33 yang telah sering dibahas, bahwa kekayaan negara seharusnya dikuasai dan dikelola oleh negara untuk kemakmuran rakyat. Pengelolaan kekayaan negara yang ideal sesuai dengan UUD pasal 33 ini adalah, satu, untuk mewujudkan amanat yang terkandung di dalam pasal tersebut, dibutuhkan good governance sebagai landasan yang mengacu kepada asas-asas yang meliputi asas keadilan, transparansi, akuntabilitas, efisiensi dan efektifitas, manfaat, peningkatan nilai tambah, kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan hidup, ketahanan nasional, dan kemandirian. Dua, dibutuhkan peraturan perundang-undangan pengelolaan kekayaan yang komprehensif dan harmonis satu dengan yang lainnya. Selain itu, system pengelolaan kekayaan negara yang solid, sumber daya manusia yang berintegritas sangat dibutuhkan. Tiga, pengelolaan kekayaan negara perlu dilakukan secara proporsional dengan memberikan perhatian ke semua factor, baik factor ekonomi, sosial, dan ekologi tanpa berat sebelah. Hal ini akan mendukung terbangunnya system pengelolaan kekayaan negara yang ideal dan berkesinambungan untuk generasi yang akan mendatang. Empat, adanya pengaturan lingkup kekayaan negara sesuai dengan UUD pasal 33 dan pasal 23 (yang secara keseluruhan diarahkan pemanfaatannya untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat).
Amanat yang sudah terkandung di dalam UU 1945 seharusnya dapat diimplementasikan mengingat UUD 1945 pasal 33 adalah pasal yang membahas tentang kemaslahatan rakyat. Sudah sejak lama Indonesia dikuasai oleh asing, Freepot contohnya. Perusahaan asing yang tidak dikuasai negara membuat rakyat semakin terbelenggu dalam kemiskinan. Perpanjangan kontrak yang selalu dilakukan semakin menimbulkan kerugian negara dan rakyat. Satu pertanyaan yang selalu muncul adalah ‘Kenapa pemerintah tidak memiliki taring dalam penegakan hukum mengenai kekayaan negara, khususnya kekayaan alam?’. Indonesia dikuasai para kapitalis asing yang semakin mengancam kemampuan rakyat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Negeri ini demokrasi, negeri ini neo-liberal, itu artinya, Indonesia liberal.
Sampai saat ini, DPD sebagai lembaga legislative tengah menyusun RUU tentang pengelolaan kekayaan negara yang nantinya akan mengatur pengelolaan kekayaan negara baik yang dikuasai maupun yang dimiliki. Langkah DPD untuk mengajukan RUU ini sudah lebih dari 10 tahun, namun sampai saat ini RUU tersebut belum juga diterima oleh DPR untuk kemudian dibahas dan disahkan. RUU tentang Pengelolaan Kekayaan Negara terus disempurnakan agar dapat disahkan sebagai UU. Kita sebagai rakyat dapat terus menuntut pemerintah untuk segera memproses hal ini yang dapat disebut sebagai ‘MASALAH’ kesejahteraan rakyat. Pemerintah seharusnya menjadi tokoh yang berpihak pada rakyat. Sebab, pada dasarnya mereka adalah rakyat yang diberikan amanah oleh rakyat untuk mengabdi kepada rakyat.

Referensi:
Naskah akademis Ranangan Undang Undang tentang Pengelolaan Kekayaan Negara tahun 2005.
http://kbr.id

Sabtu, 03 Juni 2017

Gender lagi, gender lagi


Saya bingung. Kenapa isu murahan soal gender masih dibahas? Masih mau memperdebatkan kepemimpinan perempuan? 
Isu soal perempuan menjadi pemimpin (politik) selalu menjadi kontroversi. Bagi yang masih debat soal ini, lebih baik banyak-banyak membaca literatur soal kepemimpinan. Perhatikan dan pahami dengan baik, silahkan banyak baca dan pelajari soal kepemimpinan (politik) perempuan.

Sudah tahukah anda tentang Siti Aisyah yang menjadi pemimpin? Sudah tahukah anda Kerajaan Shaba yang sejahtera bukan main dipimpin oleh seorang Ratu bernama Bilqis? Bahkan Indonesia yang katanya demokrasi masih seumur jagung, pernah memiliki presiden seorang perempuan. Amerika Serikat yang demokrasinya sudah dewasa dan matang saja belum pernah memiliki presiden seorang perempuan. Sudah tahukah anda?

Jika masih meragukan perempuan untuk menjadi pemimpin (politik), berarti harus lebih banyak membaca sejarah kepemimpinan (politik) perempuan. Tangerang Selatan saja dipimpin oleh seorang perempuan, bahkan memenangkan PILKADA untuk kedua kali.
Sekali lagi, menjadi pemimpin politik berbeda urusannya dengan pemimpin keluarga. Persoalan laki-laki adalah pemimpin perempuan itu berlaku di tataran keluarga. 
Jika hanya sekedar wali kota, ketua organisasi, sah saja. Toh pemilihan yang dilakukan menggunakan asas demokrasi, bebas untuk memilih dan dipilih. Kalau soal gender saja masih dibahas, dimana demokrasinya? Jangan-jangan belum lulus matakuliah Pengantar Ilmu Politik ya? 
Sudahlah, isu murahan seperti ini sudah bukan zamannya. 

Tulisan seorang mahasiswI biasa,
Cirendeu, 3 Juni 2017

Selasa, 28 Februari 2017

Sebuah kritik

Mereka berteriak benci politik
Mereka berteriak tidak suka politik
Namun setelah ditelisik
Mereka pun ikut berpolitik
Sangat menggelitik
Kebencian akan politik
Membawa mereka ke permainan yang asik
Bolak balik, susun tak tik
Tidak menyerah walau satu detik

Bak maling teriak maling
Tidak mau ambil pusing
Menang, itu yang paling penting

Politik adalah seni

Politik adalah seni. Maksudnya?
Seni dalam meraih apa yang dituju, bisa berbentuk kekuasaan, atau yang lainnya.
Politik itu jelek dan kotor. Salah. Poltik adalah seni. Seni apa yang digunakan untuk meraih tujuan, itu disebut politik. Jelek atau tidaknya politik, bergantung pada orang atau oknum yang melakukannya. Ciptakanlah seni yang indah dalam berpolitik. Agar terlihat elok dan rapi.

Orang awam politik sembarang bicara soal politik, harus berhati-hati. Karna bisa salah membuat statement.
Orang berbicara anti politik. Munafik. Politik tidak akan lepas dari diri setiap manusia.